Maaf, Apakah Negara Kurang Membayar Para Pegawainya ??


Kejadiannya malam ini. Tanggal 1. Yang artinya hati lagi sumpek karena beban kerja memadat, waktu  menyempit DAN kekurangan orang *jiah... curhat*, sehingga saya, demi tercapainya tenggat waktu, kembali ke kantor setelah makan malam.

Saya sedang  menyortir dokumen-dokumen yang berserakan  menumpuk di meja saya, - mulai dari klaim perjalanan sampai dengan pembelian material, dari pembayaran upah sampai sumbangan ke pihak eksternal yang sudah menjadi kewajiban sosial perusahaan *ya, ya* - ketika menemukan satu dokumen  lucu menakjubkan yang membuat saya... terharu.

Isi dokumen berbentuk surat itu begini : 

Nomor      : 01/(tiga-digit-huruf-pertama-nama-Bapak-itu)/2011      
Sifat      : Segera
Lampiran   : 1 (satu) lembar
Perihal    : Permohonan bantuan
                                                 Kota-Bapak-Itu, 16 Nopember 20xx
                                                 K e p a d a
                                           Yth : Bapak Pimpinan PT. [Nama-perusahaan]
                                                   di-
                                                   [Kota-tempat-perusahaan-berkantor]

Bersama surat ini saya sampaikan permohonan Bantuan biaya untuk Transfot *kesalahan pengetikan tidak terletak pada blog ini* [Ibukota Provinsi]-Jakarta (PP) dan Akomodasi/ penginapan di Jakarta dalam rangka menghadiri Pengukuhan Lulusan Program Pascasarjana (S2) Program Bla Bla Bla, pada Wisuda Periode IV Tahap I Universitas Bla Bla Bla Tahun 20xx, sesuai Keputusan Rektor Universitas Bla Bla Bla Nomor : bla bla bla tanggal 27 September 20xx. (Lamp. Terlampir)*sekali lagi, ketidakefisienan bahasa tidak terletak pada blog ini*
Wisuda akan dilaksanakan pada tanggal 29 Nopember 20xx di Kampus Pusat Bla Bla Bla [alamat-lengkap-dengan-kode-pos-tercantum].
Saya beserta istri akan berangkat dari [kota-Bapak-itu] ke [ibukota-provinsi] pada hari Jum’at tanggal 25 Nopember 20xx, dan dari [ibukota-provinsi] ke Jakarta hari Sabtu Siang tanggal 26 Nopember 20xx s/d tgl 4 Desember 20xx.
Sekedar untuk diketahui dan dimaklumi, saya [nama-Bapak itu-diketik-dengan-huruf-besar] koma [gelar-sarjana] Pangkat PEMBINA (yep, diketik dengan HURUF BESAR), Golongan Ruang IV/a NIP. bla bla bla adalah Kepala Bidang Bla Bla Bla pada Dinas Bla Bla Bla Kabupaten Bla Bla Bla.
Sekali lagi saya sangat mengharapkan bantuan dan partisipasi Pihak Bapak untuk dapat membantu saya dalam rangka wisuda dimaksud, dan atas Bantuan yang Bapak berikan saya haturkan terima kasih, semoga Allah SWT/Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan RahmatNya kepada kita semua. Amin. ..... *dengan ENAM titik yang dipisahkan satu spasi*

Hormat saya ;

[Nama-Bapak-itu-diketik-dengan-huruf-besar]koma [gelar-sarjana]titik

[Dilampirkan daftar nama wisudawan beserta IPKnya. IPK Bapak itu 3,38, anyway. Tinggi ya ? Yang mengasumsikan otaknya cukup bagus doooong buat dibawa mikir. Kecuali kalau tugas-tugas itu hasil beli ? *grin*]

Reaksi pertama saya : bengong.
Reaksi kedua : what the.....????*refleks langsung ingin meremas kertasnya berbentuk bola dan melemparkan ke kotak di bawah meja saya, tempat semua sampah seharusnya berkumpul*
Reaksi ketiga : sebal. Banget.

Pepatah memang mengatakan, carilah ilmu sampai ke Negeri Cina. Tapi apa iya, untuk menghadiri wisudanya perlu sampai meminta(-minta) bantuan sampai ke negeri Cina juga ??? Apalagi kalau si peminta(-minta) bantuan itu sebenarnya mampu dan tidak perlu dibantu, mengingat posisinya sebagai Kepala Bidang, *kalau di drama-drama Korea, sebutannya Pejabat Negara tuh* yang pastinya punya tunjangan jabatan dan sebagainya.

Ternyata (oknum) pegawai pemerintah dengan pengemis cuma beda-beda tipis ya. Bedanya cuma selembar kertas. Benar-benar tipis!

Korban bencana, perlu dibantu. Fakir miskin dan anak terlantar, perlu dibantu. Orang-orang kelaparan di Afrika dan beberapa tempat di Indonesia, tentunya, perlu dibantu. Orang sakit dan kecelakaan, perlu dibantu. Pegawai pemerintah Golongan IVa ingin menghadiri wisuda yang dia putuskan sendiri untuk menuntut ilmunya, apakah perlu dibantu biaya Transfot (pulang-pergi!) dan akomodasinya ??? Beserta istri pula! Sepuluh hari pula, untuk menghadiri wisuda yang cuma 3 jam! Bisa sambil jalan-jalan ke Tangkuban Perahu, ya Pak!

Setelah kepala saya lebih dingin, saya menyadari bahwa selain sebal, saya juga miris membaca surat itu. Sungguh!

Wahai Indonesia, negaraku, apakah engkau kurang membayar para pegawaimu,
Sampai mereka harus meminta-minta, dengan menjual nama jabatan ?
Dimana letaknya kemerdekaan,
Kalau ternyata kita masih menghamba, dengan menengadahkan tangan ?

*Maaf, Pak Soekarno, Pak Hatta, mungkin proklamasi di tanggal 17 Agustus, 66 tahun yang lalu itu terlalu cepat untuk kita...

**Ngomong-ngomong, tulisan saya di sini murni dari pemikiran saya sebagai individu, sebagai salah seorang rakyat Indonesia yang setia membayar pajak setiap tahunnya, (yang omong-omong, ternyata sebagiannya dikorupsi Gayus dan dedengkotnya, dan sebagiannya lagi dipakai buat bayarin orang-orang yang pegang jabatan kayak Bapak di atas itu) dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan tempat saya menumpang mencari sesuap nasi, apalagi dengan jabatan yang dipercayakan kepada saya saat ini.

***Suratnya nggak saya buang ke tempat sampah. Bener! Saya proses kok ke pihak berwenang (tentunya dalam hal ini bukan polisi). Saya bukan pemegang keputusan, soalnya.

****Setelah berhari-hari lewat, reaksi keempat saya ternyata : tertawa terbahak-bahak membaca surat itu. Kalau dipikir-pikir, paragraf terakhirnya lucu banget kan ? Amin. ..... (dengan enam titik yang dipisahkan satu spasi. .....)

Sepotong Rindu Dalam Egoku


Lirik Denting-nya Melly Goeslaw adalah sangat tepat untuk jadi background music suasana hati saya saat ini :
Sayang, kau dimana ?
Aku ingin bersama.
Aku butuh semu untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama ?
Seperti dinginku di malam ini L
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh Sayangku
Jika kau di sini aku tenang.

Iya. Dia akan bilang : Elo sinetron banget sih yak... Dan saya akan menangkis : Gue kan romantis...
Malah  tepatnya, saya dramatis-romantis-melankolis...
Sebut saja begitu. Saya rindu waktu-waktu yang saya habiskan dengannya. Kala itu, jam dinding bukanlah penunjuk waktu. Dia hanya pajangan...

Saya rindu pada debat-debat gak mutu yang saya lancarkan dengannya. Saya rindu pada kejengkelannya kalau sudah mati langkah menghadapi saya. Saat itu, dia akan bilang : Elu gimana siiih?? *jitak dikit (kalau tingkat kejengkelannya level satu) atau *jitak bolak-balik (kalau tingkat kejengkelannya level tujuh) atau *jeweeeeeerrrr (kalau tingkat kejengkelannya level sembilan). Ha ha. Sungguh, saya rindu saat-saat itu.

Iya. Saat ini saya lagi sakaw. Sakaw untuk mengulangi suasana saat saya bersama dia. Sakaw untuk mendengar kalimat-kalimat gejenya. Sakaw untuk kembali ke jam-jam panjang yang lewat diantara tawa, ngambek, jitakan dan rasa sayang yang semakin dalam.

Persis seperti perokok yang ingin berhenti merokok sedang merindukan nikotinnya.

Kata orang, waktu itu menyembuhkan. Saya enggak percaya. Seiring dengan waktu, apa yang kita rasakan sekarang memang memudar. Seolah-olah hilang. Padahal sebenarnya enggak.
Rasa itu hanya pudar. 

Dan kalau beruntung, mudah-mudahan tak berbekas. 

Tapi apakah yang memudarkannya waktu ? Bukan. Sel-sel kitalah yang melakukannya. Kalau luka fisik, ya sel-sel di jaringan tubuh kita yang menyembuhkannya. Kalau luka hati, ya sel-sel kelabu di otak kita yang akan menyimpannya jauh-jauh di dalam tempat yang paling tersembunyi di antara sekian banyak simpul saraf “kenangan”nya. Supaya kita tidak lagi terlalu merasa semasygul* sekarang.

Saya rindu dia saat ini. Sungguh.

Dan saya tahu akan melupakan ini suatu saat nanti.


*Iyeee.... ABG alay sekarang menyebutnya : galau T_T.

Salah, Salah, Salah

Semua orang pernah berbuat salah. Siapa pun. Gak perduli dia orang paling berkuasa, atau pengemis jalanan yang paling terlunta. Semua, semua, semua pernah berbuat kekeliruan dalam hidupnya. Sekali, seratus kali, seribu kali. Bener kan ?
Kadar kesalahan itu tentu besar dan kecil. Impact-nya pun beraneka ragam. Mungkin hanya berakibat ringan, dua menit berlalu. Mungkin berakibat fatal, harus ditanggung seumur hidup. Apapun akibatnya, itu pastinya akan menjadi goresan dalam lembar sejarah hidup kita. Jangan letih dulu, goresan itu memang kita perlukan untuk membentuk kita sebagaimana adanya sekarang.
Katanya, kesalahan itu guru yang paling berharga. Ia mengajarkan kita tentang kerasnya kehidupan. Ia mengajar kita tentang konsekuensi. Ia mengajar kita tentang sebuah kebenaran. Hebat ya ? Tidak hanya kesalahan yang kita buat sendiri loh, kita juga bisa kok belajar dari kesalahan orang lain. Kalau ini kita lakukan, setidaknya kita tidak perlu merasakan sakit dan pahitnya kesalahan itu.
Kesalahan itu juga menghantui. Ia seperti datang dan datang lagi. Mengejekmu yang sudah terjatuh disandungnya. Berkeras mengatakan : tidak, tidak, tidak, kau tidak akan mampu melampuiku. Kau toh sudah jatuh... Pernah merasakan itu di kepalamu ?
Saya dan kamu pernah berbuat salah. Itu manusiawi. Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kamu berbalik darinya, untuk di kemudian hari melupakannya ? Tentu saja melupakan itu termasuk tidak melakukannya lagi. Kalau kamu bisa melakukannya, niscaya kamu pasti jadi orang yang jauh, jauh, jauh lebih baik dari kamu yang kemarin.  Setuju ?
Nah, selamat  menjalani hidup, katakan “tidak!” pada rayuan si salah!